Seri 5 Program DP3, KPU Kediri Pelajari Teknik dan Metode Identifikasi Hoaks Dalam Pemilu dan Pemilihan

Seri 5 Program DP3, KPU Kediri Pelajari Teknik dan Metode Identifikasi Hoaks Dalam Pemilu dan Pemilihan

Kediri, kpu-kedirikab.go.id  - Jum’at (08/10/2021) via kanal Youtube KPU-RI, Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Kediri mengikuti seri 5 Webinar Desa Peduli Pemilu dan Pemilihan (DP3) dengan tema Teknik dan Metode Identifikasi Berita Hoax dalam Pemilu dan Pemilihan.

Kegiatan yang dimulai pukul 13.30 - 16.00 WIB tersebut menghadirkan narasumber akademisi dari Pakar Ilmu Politik Universitas Gajah Mada Abdul Gaffar Karim, Kasubdit II Dittipidsiber Bareskrim Polri KBP. Rizki Agung Prakoso, Plt. Ketua Kode Inisiatif  Violla Reininda, dan Aliansi Jurnalis Indonesia Sasmito.

Ketua KPU RI Ilham Saputra dalam sambutan pembuka menyampaikan bahwa pada  tahun 2019 menjadi tahun membludaknya berita hoax tentang penyelenggara pemilu. Dari hoaks tentang kotak suara yang dianggap sebuah kardus sampai hoaks tentang datangnya beribu-ribu kontainer surat suara dari China yang sudah terisi hak suara. Jika berita hoax sampai ke masyarakat tanpa dicerna dahulu maka akan beresiko pada tingkat kepercayaan penyelenggara pemilu serta berdampak juga pada partisipasi pemilu. 

“KPU sebisa mungkin menghimbau kepada masyarakat jika menerima berita hoaks secepat mungkin harus diklarifikasi.  Media yang paling mudah untuk klarifikasi adalah media sosial yang mudah diserap oleh masyarakat. Sehingga dapat menangkal berita-berita hoax pada pemilu kedepannya,” tutur Ilham.

Sementara itu pemateri pertama oleh Dosen UGM, Abdul Gaffar Karim menyampaikan bahwa beredar berita hoax yang mengganggu sehingga menyebabkan crash antara masyarakat dengan penyelenggara pemilu. Sarana utama penyebaran hoaks adalah media sosial, seperti: WA, FB, IG, Telegram, dan media lain yang mengkoneksikan semua orang dapat dengan mudah saling berbagi berita. "Yang paling parah adalah media online abal-abal yang mana tidak diketahui bagaimana sumber asli dari akun media tersebut. Hal yang menarik ditemukan bahwa penyebar sekaligus korban yang percaya hoax adalah orang berusia >40 tahun. Usia tersebut rentan termakan berita hoax karena mereka beranggapan bahwa berita yang mereka dapat sudah  pasti benar,". kata Ghaffar.

Sepakat dengan Abdul, pemateri kedua Plt. Ketua Kode Inisiatif  Violla Reininda memberikan beberapa rekomendasi untuk melawan dan mereduksi berita hoaks salah satunya yaitu dengan cara investigasi mendalam untuk menemukan keterhubungan antara akun penyebar hoax dan akun ujaran kebencian dengan kandidat. "Karena bagaimanapun juga memang tidak terlihat apakah pelaku seorang partisipan atau kandidat maka investigasi ini perlu untuk mencari keterhubungan itu supaya tidak hanya pengguna akun yang mendapat sanksi tapi juga kandidat, supaya memberikan efek jera," ucap Violla.

Di lain sisi, Aliansi Jurnalis Indonesia Sasmito meluncurkan sebuah platform pendeteksi sebuah fakta apakah yang bernama CEK FAKTA. "Untuk mengantisipasi berita hoax yang beredar di masyarakat khususnya di internet, kami di tahun 2018 bekerja sama dengan MAFINDO dan AMSI serta didukung oleh Google News Initiative, Internews, serta First Draft. Platform ini didukung juga oleh 22 media di Indonesia, saya pikir ini cukup membantu ketika ada hoax yang ada di masyarakat sehingga dapat di cek disini sesuai fakta yang ada. Setelah pengecekan fakta, hasil akan di share ke media sosial yang ada," papar Sasmito.

Terakhir, Kasubdit II Dittipidsiber Bareskrim Polri KBP. Rizki Agung Prakoso mengatakan bahwa hoax berkaitan dengan tindak pidana cyber. Hoax adalah bagian tindak pidana yang cenderung terdapat dalam momentum pemilu dengan tujuan untuk menjatuhkan lawan. "Dalam menangani berita hoax kami begitu profesional dengan cara pencarian, penentuan target, eksekusi target (ditangkap/ dilaporkan ke penyedia layanan media sosial), eksploitasi (lakukan interview, penggeledahan, ambil data dari perangkat seperti hp dan komputer milik tersangka), yang terakhir adalah sebarkan informasi (menerangkan pada masyarakat agar lebih waspada dalam menerima berita),” ungkap Rizki. (na/pnj)