Jadikan Semangat Pahlawan Sebagai Inspirasi dalam Menyukseskan Pemilu dan Pemilihan 2024

Jadikan Semangat Pahlawan Sebagai Inspirasi dalam Menyukseskan Pemilu dan Pemilihan 2024

Kediri, kpu-kedirikab.go.id - Rabu (10/11/2021) via kanal youtube KPU Kabupaten Serang, Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Kediri mengikuti webinar RABU NGOPI (Rabu Ngobrolin Pemilu) dengan tema “Semangat Pahlawan Inspirasi Sukses Pemilu dan Pemilihan  2024”.

Kegiatan yang dimulai pukul 08.30 - 12.00 WIB ini dihadiri oleh Anggota KPU Banten Ramelan, Ketua NETFID Dahlia Umar, dan Akademisi UNTIRTA Leo Agustiono. Turut hadir juga Keynote Speaker Ketua KPU RI Ilham Saputra dan Komisi II DPR RI Miftahul Choiri. Pembawa acara disampaikan oleh Ketua KPU Kab. Serang. Tak lupa moderator acara ini oleh Anggota KPU Serang yaitu Zainul Muttaqin dan Sagara.

Ketua KPU RI, Ilham Saputra dalam sambutanya menyampaikan sebagai penyelenggara pemilu sudah seharusnya menyukseskan pemilu di tahun 2024, ini memang tidak mudah karena banyak masyarakat yang belum terdaftar sebagai pemilih maka akan menjadi kerumitan bagi KPU dan Bawaslu. 

“Sebagai penyelenggara kita harus semangat memberantas kerumitan-kerumitan itu untuk mempersiapkan dinamika-dinamika yang akan muncul pada pemilu 2024. Saya berharap betul semangat dari para pejuang di hari pahlawan ini dapat menjadi motivasi kita dalam melaksanakan tahapan pemilu” ujar Ilham.

Pemateri pertama Ramelan menyampaikan bahwa dalam konteks membangun pemilu yang ada, kerangka yang dapat dijadikan acuan adalah perjuangan para pahlawan. Sebagai aktivis pemilu sudah menjadi bagian dalam upaya melindungi segenap bangsa Indonesia seperti dalam pasal 1 ayat 2 dan undang-undang dasar 1945 yaitu dalam pemilihan presiden dan wakil presiden secara langsung, jujur, adil, langsung, umum, bebas, dan rahasia. Kerangka-kerangka ini bisa dijadikan acuan bagaimana menjadi pahlawan untuk mewujudkan pemilu yang demokratis serta mampu mensukseskan tahapan. Tanggung jawab kita sebagai penyelenggara dalam mewujudkan dan menghasilkan pemimpin-pemimpin politik haruslah dilalui dengan cara-cara yang baik, benar dan demokratis serta  tidak ada manipulatif.

“Sebagai penyelenggara kita harus terlibat dalam membangun dan mempertahankan demokrasi yang sudah kita semangati dan disepakati demi mewujudkan nilai-nilai kepahlawanan dalam pemilu dan pemilihan 2024,” jelas Ramelan

Selanjutnya Miftahul choiri menyampaikan bahwa 10 November menjadi hari memperingati bagaimana semangat pengorbanan para pahlawan yang telah gugur mendahului kita. Mereka telah mewariskan negara kesatuan republik Indonesia untuk dijaga. Maka kita sebagai pewaris bangsa harus menjaga stabilitas demokrasi yang baik. Tugas kita sekarang sebagai penyelenggara demokrasi berkewajiban untuk menjaga stabilitas, kebersamaan, dan integritas. Harapannya pada pesta demokrasi 2024 mampu berjalan dengan baik sesuai dengan asas yang mengedepankan netralitas dan transparansi. 

“Catatan kita sebagai pelaksana dan peserta demokrasi adalah bagaimana kita sukseskan pesta demokrasi dimana semua warga negara memiliki hak yang sama, karena hal ini merupakan pengambilan keputusan yang dapat mengubah hidup kita dan dapat mengubah tatanan kenegaraan kita. Oleh karena itu kedepannya bangsa ini bisa mendapatkan pemimpin-pemimpin yang baik yang diawali dari kesemangatan kita sebagai penyelenggara,” kata Mifta.

Dahlia dalam webinar kali ini menyampaikan materi dengan tema tantangan pemilu serentak 2024 pada aspek teknis dan partisipasi pemilih. Beliau menyampaikan beberapa antisipasi permasalahan pemilu 2024. Perangkat hukum pemilu dan kesenjangan antara aturan yang berlaku dengan kebutuhan pengaturan pemilu serentak yang lebih rinci. Permasalahan penegakkan hukum pemilu yang menjamin asas kepastian hukum dalam percobaan dan penetapan calon terpilih. Kemudian penyusunan tahapan, program dan jadwal dapat menimbulkan adanya persinggungan dalam tahapan pemilu dan pilkada. 

“Maka kedepannya ada beberapa perbaikan untuk menghadapi situasi ini yaitu penyelenggara pemilu perlu dieliminir. Selanjutnya PPK, PPS, Pantarlih, dan KPPS harus menjadi lembaga ad hoc yang perlu diperhatikan tentang usia penyelenggaraannya. Terakhir dalam aspek pendidikan politik ini perlu melibatkan perguruan tinggi, NGO, Demokratisasi Partai Politik, literasi, dan media,” jelas Dahlia.

Terakhir Leo menyampaikan bahwa terdapat kerisauan dari beberapa kawan-kawan kita (warga negara) yang menganggap bahwa pemilu itu sebagai sesuatu yang biasa-biasa saja. Kelompok masyarakat yang harus kita perhatikan yaitu mereka kaum milenial dari generasi x, y, z. Mereka biasanya relatif tidak terlalu mendalami dunia politik. Dalam kehidupan mereka biasanya sudah terkonstruk pada dunia ekonomi. Hal ini banyak dilihat pada kawan-kawan muda kita yang lebih tertarik pada ranah  youtuber, influencer, dan lain sebagainya. Sehingga hal-hal politik ini dianggap sebagai sesuatu yang tidak menarik bagi mereka. 

“Sedangkan pemilu tahun 2004 yang akan datang jumlah mereka itu adalah jumlah yang terbesar maka ini menjadi tugas saya sebagai akademisi dan tugas kawan-kawan sebagai penyelenggara untuk memberikan pendidikan politik kepada kawan-kawan generasi x, y, dan z bahwa peran penyelenggara dalam melaksanakan pemilu itu sangat berarti dalam kemajuan bangsa Indonesia,” tutup Leo.