SIREKAP, Wujud Inovasi KPU Laksanakan Transparansi berbasis Teknologi

SIREKAP, Wujud Inovasi KPU Laksanakan Transparansi berbasis Teknologi

Kediri, kpu-kedirikab.go.id - Rabu (17/11/2021) via zoom, Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Kediri mengikuti Webinar dengan tema Penerapan Sirekap Pada Pemilu. Webinar ini diselenggarakan oleh KPU RI.

Kegiatan ini dimulai pukul 10.00 WIB dengan menghadirkan narasumber dari Pakar Kepemiluan Prof. Ramlan Surbakti, dan Pakar Hukum Harsanto Nursadi. Acara dibuka oleh Ketua KPU RI Ilham Saputra. Turut hadir sebagai pengantar dari Anggota KPU RI Evi Novida Ginting Manik. 

Webinar ini dibuka oleh Ketua KPU RI Ilham Saputra. Dalam sambutannya Ilham menyampaikan bahwa tujuan dari pelaksanaan webinar Sirekap ini untuk mengembangkan penggunaannya pada Pemilu 2024. 

"Sirekap sangat membantu kita sebagai penyelenggara Pemilu dan Pemilihan untuk memberikan transparansi hasil Pemilu dan Pemilihan kepada khalayak publik serta dapat dengan mudah diakses masyarakat luas. Sirekap sangat efektif dan efisien waktu karena dengan Sirekap perhitungan menjadi lebih cepat" tegasnya.

Setuju dengan Ilham, Komisioner KPU RI Evi Novida Ginting sebagai pengantar acara turut menyampaikan dengan pengembangan sirekap diharapkan pemilu 2024 yang akan datang dapat berjalan efektif dan efisien.

"Maka saya berharap terkait proses rekapitulasi dan kerja badan adhoc menjadi lebih terbantu di pemilu tahun 2024 sehingga menjadi data digital yang siap jadi"jelas Evi.

Narasumber dari pakar kepemiluan Harsanto Nursadi membahas mengenai  mengenai sirekap dalam pemanfaatan teknologi informasi yang sesuai dengan hukum dan undang-undang yang berlaku.

"Penerapan sirekap merupakan tindakan administrasi pemerintahan. Maka saya menyarankan kepada KPU untuk tidak takut terkait penggunaan teknologi sirekap dalam pelaksanaan proses rekapitulasi, hal ini dikarenakan sirekap dapat menopang 3 akuntabilitas yaitu pertanggungjawaban hukum, pertanggungjawaban moral dan pertanggungjawaban yang terhitung" jelas Harsanto.

Terakhir Ramlan Subakti menyampaikan bahwa Indonesia merupakan negara satu-satunya yang masih menggunakan cara manual mengenai proses pemungutan dan perhitungan suara yang dilakukan di TPS dalam satu hari penuh kemudian dengan disaksikan secara terbuka oleh masyarakat. Menurutnya E-voting dan E-count jika diterapkan di Indonesia merupakan pilihan yang belum tepat sehingga lebih ditekankan pada E-recapitulation yang masih dikembangkan hingga saat ini. 

"Perlu diingat penggunaan IT berperan untuk menjawab kelemahan yang ada bukan untuk mengganti yang sudah baik" tutup Ramlan.